Social Icons

Pages

Wednesday, July 17, 2013

Jari Rasulullah Bercahaya

Mukjizat yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sangat banyak jumlahnya, ada yang sudah terkenal dan banyak didengar oleh kebanyakan kaum muslimin.
Salah satu dari sekian banyak mukjizat itu adalah jari tangan Rasulullah SAW bisa mengeluarkan cahaya.


Berikut Kisahnya.
Dirawikan dari Hamzah bin 'amr al-Aslami, ia bercerita bahwa pada suatu saat di malam hari ia berjalan bersama Rasulullah SAW. Kondisi saat itu gelap gulita tanpa penerangan sedikitpun. Kemudian keduanya berpencar di ujung jalam, dan saat berpencar itulah Hamzah mengetahui bahwa jari jemari Rasulullah SAW bersinar sangat terang.

Begitu terangnya sinar itu hingga beberapa sahabat Rasulullah SAW yang lain bisa mengumpulkan hewan tunggangan mereka serta tak ada seorang pun yang tersesat.

Keistimewaan jari jemari Rasulullah SAW lainnya juga bisa memancarkann air.
"Aku pernah melihat Rasulullah pada saat waktu shalat ashar tiba, orang-orang mencari air wudhu, tapi mereka tak menemukan air. Kemudian Rasulullah datang dengan membawa sebuah wadah berisi air wudhu. Rasulullah SAW lalu memasukkan tangannya ke dalam wadah itu, lalu Beliau menyuruh orang-orang berwudhu dari wadah itu. Saat itu Anas bin Malik menyaksikan air memancar dari bawah jari jemari Rasulullah SAW.
(HR. Bukhari, Muslim, An-Nasa'i, dan Tirmidzi).

Bersinar Terang.
Bukan hanya jari jemari Beliau saja yang bersinar, dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa tongkat Beliau serta setandan kurma pemberian Beliau juga mampu mengeluarkan cahaya.

Dirawikan dari Maimun bin Zaid Abas bahwa Rasulullah SAW sutu saat memberikan sebuah tongkat pada Abu Abas setelah ia mengalami kebutaan. Rasulullah SAW berkata kepada Abu Abas,
"Gunakanlah tongkat ini sebagai penerang jalanmu."

Kemudia Abas menerima tongkat itu, anehnya, tongkat dari kayu itu tiba-tiba bisa mengeluarkan cahaya sehingga menerangi jalan Abas.

Dalam riwayat lainnya sisebutkan bahwa Abu Abas shalat lima waktu bersama Rasulullah SAW. Kemudian ia pulang ke perkampungan Bani Haritsah. Di suatu malam yang gelap gulita dan hujan sedang turun dengan derasnya, Abas keluar lalu tongkat pemberian Rasulullah SAW itu ia gunakan untuk menerangi jalan. Akhirnya Abas selamat hingga sampai di rumah Bani Haritsah.

Setandan Kurma.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Na'im dijelaskan bahwa pada suatu malam, Rasulullah SAW keluar dari rumah menuju masjid untuk menunaikan shalat Isyak. Ketepatan malam itu juga hujan turun dengan derasnya dan disahuti petir. Saat sinar petir menerangi malam, Rasulullah SAW melihat Qatadah bin Nu'man.

"Hai Qatadah, setelah Anda selesai shalat, tetaplah duduk di tempatmu hingga aku menyuruhmu," ucap Rasulullah SAW.
Seusai shalat, Rasulullah SAW menemui Qatadah dan memberikan sebuah tandan kurma.
"Ambillah tandan kurma ini, ia akan menerangi jalan di depanmu sepuluh langkah dan dibelakangmu sepuluh langkah," tutur Nabi Muhammad SAW seraya memberikan setandan kurma itu.

Qatadah menerimanya.
Lalu saat pulang ke rumahnya, setandan kurma itu benar-benar menerangi jalannya sampai di rumah.
Subhanallah.

Sumber :
Kisah Teladan Islami

Nabi Sulaiman Menangkap Iblis

Nabi Sulaiman a.s pernah mengkap Iblis dan memenjaraknnya selama beberapa hari, namuk kemudian dilepaskan lagi karena mendapat teguran Allah SWT dan karena banyak rakyatnya mengeluh karena kelaparan.

Seperti banyak diketahui, bahwa Nabi Sulaiman memiliki kerajaan yang besar sekali, wilayah kekuasaannya sangat luas dan banyak musuh yang tunduk kepadanya dari berbagai golongan, dari golongan manusia, binatang, jin dan bahkan iblis pun tunduk pula kepadanya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi Sulaiman a.s memohon kepada Allah SWT,
"Ya Allah, Engkau telah menundukkan kepadaku manusia, jin, binatang buas, burung-burung dan para malaikat. Ya Allah, aku ingin menangkap iblis dan memenjarakannya, merantai dan mengikatnya, sehingga manusia tidak berbuat dosa dan maksiat lagi.
Allah SWT kemudian mewahyukan kepada Sulaiman a.s,"
Wahai Sulaiman, tidak ada kebaikannya jika iblis ditangkap."

Nabi Sulaiman a.s tetap memohon,
"Ya Allah, keberadaan makhluk terkutuk itu tidak memiliki kebaikan di dalamnya."
Allah berfirman,
"Jika iblis tidak ada, maka banyak pekerjaan manusia yang akan ditinggalkan."

Nabi Sulaiman Memenjarakan Iblis.
Nabi Sulaiman berkata,
"Ya Allah, aku ingin menangkap iblis selama beberapa hari saja."
Allah SWT berfirman,
"Bismillah, tangkaplah iblis."

Kemudian Nabi Sulaiman a.s menangkap iblis dan merantai serta memenjarakannya. Nabi Sulaiman tampak puas setelah memenjarakan iblis laknatullah itu.
Sementara itu, Nabi Sulaiman a.s merajut tas untuk dijual ke pasar setiap harinya.
Beliau memang memiliki kerajaan yang sangat besar, namun untuk keperluan makan, Beliau mencari sendiri dari hasil jerih payahnya.

Suatu hari, Beliau pergi ke pasar untuk menjual tas hasil rajutannya, karena dari hasil penjualan tas itu bisa dibelikan gandum untuk dibuat roti sebagai makanan hari itu juga.
Padahal dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa dapur kerjaan Nabi Sulaiman telah dimasak 4000 unta, 5000 sapi dan 6000 kambing. Meski demikian, Nabi Sulaiman a.s tetap menjual tas dan menjualnya ke pasar untuk mencari makan.

Keesokan harinya, Nabi Sulaiman a.s mengutus anak buahnya untuk menjual tasnya ke pasar, namun mereka melihat pasar itu tutup dan tak ada yang berdagang sama sekali. Akhirnya mereka kembali pulang dengan tangan hampa sekaligus mengabarkan hal ini kepada Nabi Sulaiman.

Nabi Sulaiman bertanya,
"Apa yang terjadi?"
Mereka menjawab,
"Kami tidak tahu."
Pada hari berikutnya sama saja, anak buahnya membawa kabar bahwa pasar telah tutup dan semua orang pergi ke makam, sibuk menangis dan meratap. Semua orang siap-siap melakukan perjalanan ke akhirat.

Iblis Dilepaskan.
Nabi SUlaiman a.s bertanya kepada Allah SWT,
"Ya Allah, apa sebenarnya yang telah terjadi? Mengapa orang-orang tidak bekerja mencari makan?"
Allah SWT mewahyukan kepada Nabi Sulaiman a.s,
"Wahai Sulaiman, engkau telah menangkap iblis itu, sehingga akibatnya manusia tidak ada gairah lagi untuk mencari nafkah. Bukankah sebelumnya telah Aku katakan kepadamu bahwa menagkap iblis itu tidak mendatangkan kebaikan?"

Mendengar wahyu Allah SWT tersebut, Nabi Sulaiman a.s segera membebaskan iblis. Keesokan harinya, orang-orang sudah terlihat seperti biasanya lagi, pergi ke pasar dan mencari nafkah. Mereka sibuk bekerja dan mencari nafkah.
Jadi, jika iblis tidak ada, pekerjaan manusia akan kacau balau.

Sumber :
Kisah Teladan Islami

Kisah Malaikat Pencatat Amal

Setiap manusia dijaga oleh malaikat pencatat amal yang berada di sebelah kanan dan kirinya.

Kisahnya.
Diterangkan dalam sebuah hadits bahwa manusia dijaga oleh malaikat, salah satunya berada di sebelah kanan sebagai pencatat amal kebaikan tanpa kesaksian yang lain, dan yang satunya lagi berada di sebelah kiri sebagai pencatat amal yang jelek, dan dia tidak akan mencatat amal jelek tanpa kesaksian di sebelah kanannya.
Jika manusia duduk, satu malaikat berada di sebelah kanannya dan malaikat lainnya di sebelah kirinya.
Sedangkan jika manusia berjalan, maka satu malaikat berada di belakangnya dan malaikat yang lain berada di depannya, dan jika manusia tidur, malaikat yang satu berada di dekat kepalanya dan yang lain berada di dekat kirinya.


Kesaksian Malaikat.
Dalam riwayat yang lain dijelaskan, ada 5 malaikat yang menyertai manusia, yaitu:
  • Dua malaikat menjaga pada malam hari.
  • Dua malaikat menjaga pada siang hari.
  • Dan satu malaikat yang tidak pernah berpisah dengannya.
Hal tersebut sesuai dengan firman ALlah SWT,

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

Artinya:
"Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia."
(QS. Ar-Ra'd: 11).

Bagi tiap-tiap manusia ada beberapa Malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula beberapa Malaikat yang mencatat amalan-amalannya. dan yang dikehendaki dalam ayat ini ialah Malaikat yang menjaga secara bergiliran itu, disebut Malaikat Hafazhah.
Tuhan tidak akan merobah Keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.




Yang dimaksud malaikat yang bergantian yaitu malaikat malam dan siang yang melindunginya dari jin, setan dan manusia.
Kedua ma;laikat menulis amal kebaikan dan kejelekan diantara kedua bahunya. Lidahnya sebagai pena, mulutnya sebagai tempat tinta, keduanya menulis amal manusia sampai datang hari kematiannya.

Rasulullah SAW bersabda,
"Sesungguhnya malaikat di sebelah kanan itu lebih dapat dipercaya daripada malaikat di sebelah kiri. Maka jika manusia beramal jelek dan malaikat di sebelah kiri akan menulisnya, maka malaikat di sebelah kananya berkata kepadanya,
"Tunggu dulu, tunggulah selama 7 jam, jika dia beristighfar kepada Allah jangan kau tulis dan jika dia tidak beristighfar maka tulislah satu kejelekan."

Maka ketika dicabut nyawa manusia dan diletakkan dalam kuburnya, kedua malaikat berkata,
"Wahai Tuhanku, Engkau telah menyerahkan kepada kami hamba-Mu untuk menulis amalnya dan sungguh Engkau telah mencabut ruhnya, maka ijinkanlah kami naik ke langit."

Maka ALlah SWT berfirman,
"Langit telah dipenuhi dengan malaikat yang membaca tasbih, maka kembalilah kalian berdua dan bertasbihlah kepada-Ku, bacalah takbir dan tahlil, dan tulislah bacaan-bacaan itu untuk hamba-Ku sampai dia dibangunkan dari kuburnya."

Kiraman Katibin.
Allah SWT berfirman tentang malaikat Kiraman Katibin,
"Aku menanamkan mereka Kiraman Katibin karena ketika menulis amal kebaikan mereka naik ke langit dan memperlihatkannya kepada Allah dan mereka bersaksi atas hal tersebut dengan berkata,
"Sesungguhnya hamba-Mu si Fulan berbuat sesuatu kebaikan demikian dan demikian."

Dan ketika menulis atas seorang hamba amal kejelekan, mereka naik dan memperlihatkannya kepada Allah dengan rasa susah dan gelisah.
Maka Allah SWT berfirman kepada malaikat Kiraman Katibin,
"Apa yang diperbuat hamba-Ku?"
Mereka diam hingga Allah berfirman untuk yang kedua dan ketiga kalinya, lalu mereka berkata,
"Ya Tuhanku, Engkau Dzat yang mengetahui aib dan Engkau memerintahkan hamba-hamba-Mu agar menutupi aib-aib mereka. Sesungguhnya setiap hari mereka membaca kitab-Mu dan mereka mengharap kami menutupi aibnya."

Lalu malaikat Kiraman Katibin mengatakan yang mereka ketahui tentang apa yang diperbuat seorang hamba.
Allah SWT berfiman,
"Maka sesungguhnya kami menutupi aib-aib mereka dan Engkaulah Dzat Yang Maha Mengetahui aib-aib."

Karena inilah mereka dinamakan Kiraman Katiban (yang mulia di siai Allah) dan yang mencatat amal perbuatan.
Referensi dari kitab Daqoiqul Akhbar Fii Dzikril Jannati Wan Nar.

Sumber :
Kisah Teladan Islami

Kisah Ramses II dan Nabi Musa

Kisah Islamiah hadir kembali dan kali ini akan mengisahkan tentang Raja Ramses II yang mengaku Tuhan kepada Nabi Musa.
Fir'aun sebenarnya adalah Raja dari dinasti ke 19 kerajaan Mesir Kuno. Sebagai raja, ia memimpin beberapa ekspedisi ke Israel, Lebanon dan Suriah. Ia juga memimpin ekspedisi ke selatan, ke Nubia, dan bagian awal kekuasaannya adalah fokus dalam pembangunan kota, kuil dan monumen.

BERIKUT KISAHNYA.
Raja Fir'aun mendirikan kita Pi-Ramesses di delta sungai nil sebagai ibu kota barunya dan basis utama untuk kampanye militernya di Suriah. Ramesses II juga merupakan salah satu Fir'aun yang paling lama berkuasa, yakni 66 tahun.

Saat Nabi Musa dilahirkan, Ramses II sudah berusia 54 tahun. Dia sudah mengangkat dirinya sebagai Tuhan.
Ramses II diangkat sebagai Fir'aun pada usia 24 tahun, dia mengendalikan sepenuhnya Mesir dalam waktu 20 tahun pertama. Saat mengangkat dirinya sebagai Tuhan, kekuasaannya sudah berlangsung selama 30 tahun.



Kelahiran Musa sangat menggusarkan Fir'aun, sebab para penasehat spiritualnya mengatakan bahwa akan lahir bayi laki-laki dari kalangan Bani Israel yang kelak akan mengalahkan Fir'aun.
Dia pun memerintahkan pembunuhan setiap bayi laki-laki dari Bani Israil.
(lihat QS. 2: 49).

Akan tetapi, bayi Musa diselamatkan oleh Allah SWT dengan cara yang sangat istimewa. Ibu Musa memperoleh ilham dari Allah untuk menghanyutkan bayinya di aliran sungai Nil. Atas kehendak-Nya, bayi yang diletakkan di ranjang itu akhirnya berlabuh hingga sampai di istana Fir'aun di Memphis.

Saat itu, istri Fir'aun yang paling dicintai (Asiyah) sedang berada di taman pinggir sungai Nil. Dia melihat bayi lucu itu dan langsung jatuh hati kepadanya. Maka, dia lalu mengambil bayi tersebut dari keranjangnya dan meminta Fir'aun untuk tidak membunuhnya.
Bahkan justru bayi laki-laki itu berkulit putih yang jelas-jelas bukan dari kaum Fir'aun. Ramses II tidak mampu menolak permintaan istrinya.
(Lihat QS. 28: 9).

MUSA TINGGAL di KERAJAAN.
Selama tinggal di kerajaan Fir'aun, Musa terus mendapat perlindungan Allah SWT. Bayi itu tidak mau disusui siapa pun. Dia hanya mau menyusu kepada ibu kandungnya yang berwajah Bani Israil.
Untuk memenuhi permintaan istri tercinta, Ramses II menyelenggarakan sayembara mencari perempuan yang mampu mengasuh dan menyusui bayi tersebut, dan akhirnya terpilihlah ibu kandung Musa sebagai pengasuh yang menyusui dan memelihara Musa sampai masa kanak-kanaknya berakhir.
(Lihat QS. 28: 12).

Singkat cerita, Nabi Musa yang merupakan musuh besar Fir'aun itu sejak bayi dipelihara dan dibesarkan dalam istana. Sampai pada suatu ketika, setelah menjadi pemuda, dia membunuh orang Qitbhi (orang Mesir asli) yang sedang berkelahi dengan seorang pemuda Bani Israil.

Fir'aun pun tak mampu menahan diri untuk menghukum Musa. Dia geram kepada Musa, pemuda Bani Israil yang sudah dipeliharanya bertahun-tahun, tetapi tetap saja menunjukkan pembelaannya kepada Bani Israil yang dia benci.

Musa akhirnya lari meninggalkan kota Memphis menuju negeri Madyan, di timur Mesir. Di sana, Musa diambil menantu olelh Nabi Syuaib sekaligus belajar agama kepadanya selama sepuluh tahun atau lebih.
(QS. 28: 27).

Menjelang usia 40 tahun, Musa bersama keluarganya meninggalkan negeri Madyan menuju Mesir. Di tengah perjalanan, di sekitar gunung Sinai, Musa melihat api di sebuah bukit. Dia pun mendaki bukit itu dan ternyata di bukit itulah dia menerima perintah dari Allah SWT untuk menghentikan kesewenang-wenangan Fir'aun serta mendakwahkan agama Tauhid. Allah pun membekali Musa dengan beberapa mukjizat.

TOBATNYA DITOLAK.
Setelah menerima wahyu di Gunung Sinai, Nabi Musa melanjutkan perjalanan ke kota kerajaan untuk menyampaikan ajaran Allah SWT. Ia menyatakan bahwa Allah pencipta alam semesta dan merupakan agama nenek moyangnya.
Tapi Fir'aun tetap menolak dan menyatakan bahwa dirinya sebagai Tuhan yang sebenarnya.

Kemudian Nabi Musa mengajak Bangsa Israil untuk keluar dari Mesir menuju Tanah Yang Dijanjikan Allah.
Upaya pergi itu diketahui oleh Raja Fir'aun dan kemudian mengerahkan 2 ribu pasukan inti untuk menghentikan langkah Bani Israil yang jumlahnya mencapai 600 ribu orang. Namun sayangnya, Bangsa Israil dapat meloloskan diri dari kejaran Fir'aun beserta bala tentaranya.

Dan bagi Fir'aun II, ia justru menemui ajalnya setelah tenggelam bersama pasukannya di laut merah.

Namun sebelum meninggal di tengah Laut Merah, Fir'aun sempat bertobat, akan tetapi tobatnya tidak diterima oleh Allah SWT. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam ayat suci Al Qur,an,
"Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas mereka, hingga Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah ia,
"Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri."
(QS. Yunus: 90).

Allah SWT berfirman,
"Apakah sekarang (kamu baru percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuaasaan Kami."
(QS. Yunus: 91-92).

Ramses II meninggal dunia dalam usia 97 tahun dan dimakamkan di Lembah Raja setelah mayatnya ditemukan rakyatnya dalam kurun waktu beberapa hari terombang-ambing ombak di Laut Merah.

Keberadaan muminya sempat tidak jelas. Baru pada tahun 1881, mumi Ramses II ditemukan para arkeolog di sekitar Lembah Raja untuk dipindahkan ke Museum Mesir di Kairo.
Wallahu A'lam. 
 
Sumber :
Kisah Teladan Islami

Tobat Sehari Hapus Dosa 40 Tahun

Pada suatu ketika di daerah yang dihuni Bani Israil tidak turun hujan cukup lama. Penyebabnya adalah karena ada salah seorang dari kaum itu yang telah melakukan dosa 40 tahun lamanya.
Setelah orang itu bertobat, akhirnya di daerah itu turun hujan.
Bagaimana Kisahnya?
Berikut Kisahnya.
Pada zaman Nabi Musa, kaum Bani Israil pernah ditimpa musim kemaru yang panjang.
Karena tidak kuat menanggung cobaan dari Allah itu, mereka berkumpul untuk menemui Nabi Musa dan berkata,
"Wahai Musa, tolonglah doakan kami kepada Tuhanmu supaya Dia berkenan menurunkan hujan untuk kami."

Kemudian berdirilah Nabi Musa a.s bersama kaumnya. Mereka berangkat menuju tanah lapang untuk minta diturunkan hujan. Jumalah mereka kurang lebih 70 ribu orang.

PENGHALANG DOA.
Kepada Nabi Musa, Allah SWT menurunkan wahyu-Nya,
"Aku tidak pernah merendahkan kedudukanmu di sisi-Ku, sesungguhnya di sisi-Ku kamu mempunyai kedudukan yang tinggi. Akan tetapi, bersama denganmu ini, ada orang yang secara terang-terangan melakukan perbuatan maksiat selama 40 tahun.
Engkau boleh memanggilnya supaya ia keluar dari kumpulan orang-orang yang hadir di tempat ini. Orang itulah sebagai penyebab terhalangnya turun hujan untuk kamu semuanya."

Nabi Musa kembali berkata,
"Wahai Tuhanku, aku adalah hamba-Mu, suaraku juga lemah, apakah mungkin suaraku ini dapat di dengarnya, sedangkan jumlah mereka lebih dari 70 ribu orang."
Allah SWT berfirman,
"Wahai Musa, kamulah yang memanggil dan Aku-lah yang akan menyampaikannya kepada mereka."
Menuruti apa yang diperintahkan Allah, Nabi Musa a.s berseru kepada kaumnya,
"Wahai seorang hamba yang durhaka yang secara terang-terangan melakukannya sampai 40 tahun, keluarlah kamu dari rombongan ini, karena kamulah hujan tidak diturunkan Allah SWT."

Mendengar seruan dari Nabi Musa a.s itu, maka orang yang durhaka itu berdiri sambil melihat ke kanan dan ke kiri. Akan tetapi, dia tidak melihat seorangpun yang keluar dari rombongan itu. Dengan demikian, tahuah dia bahwa yang dimaksudkan Nabi Musa itu adalah dirinya ssendiri. Karena itu dia ingin bertobat, tetapi ia ragu untuk mengakuinya di tempat itu.

"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah durhaka kepada-Mu selama 40 tahun. Walaupun demikian, Engkau masih memberikan kesempatan kepadaku dan sekarang aku datang kepada-Mu dengan ketaatan, maka terimalah tobatku," begitu doanya.

Beberapa saat selepas itu, awan bergumpal di langit, setelah itu hujan pun turun dengan deras. Melihat keadaan demikian, Nabi Musa berkata,
"Tuhanku, mengapa Engkau memberikan hujan kepada kami, bukankah diantara kami tidak ada seorangpun yang keluar mengakui dosanya?"

HUJAN LEBAT.
Lalu Allah SWT berfirman,
"Wahai Musa, aku menurunkan hujan ini juga disebabkan oleh orang yang dahulunya sebagai sebab tidak menurunkan hujan kepada kamu."
Kemudian Nabi Musa berkata,
"Tuhanku, sebenarnya siapakah gerangan dia? Perlihatkanlah dia kepadaku siapa sebenarnya hamba-Mu itu?"

Allah berfirman,
"Wahai Musa, dulu ketika ia durhaka kepada-Ku, Aku tidak pernah membuka aibnya. Apakah sekarang Aku akan membuka aibnya itu ketika dia telah taat kepada-Ku?
Wahai Musa, sesungguhnya Aku sangat benci kepada orang yang suka mengadu. Apakah sekarang Aku harus menjadi pengadu?"

Akhirnya Kaum Nabi Musa mengerti bahwa Allah Maha Pemaaf.
Maksiat selama 40 tahun bisa dihapus dengan tobat sehari.

Sumber :
Kisah Teladan Islami

Jeritan Iblis Saat Sakaratul Maut

Kisah Islamiah hadir kembali dengan kisah Jin, dengan Iblis sebagai pokok pembicaraan. Saat kiamat nanti, semua yang hidup akan mati, tidak terkecuali iblis dan anak keturunannya. Disebutkan bahwa Iblis sangat sengsara pada saat naza' atau proses pencabutan nyawa.

BERIKUT KISAHNYA.
Dalam kitab karya Imam Abdirrahim bin Ahmad Al-Qadhiy diceritakan bahwa saat sangkakala kematian ditiup, maka terkejutlah semua penghuni langit dan bumi. Gunung-gunung berjalan, langit terbalik dan bumi bergoncang, orang yang hamil akan melahirkan bayinya, orang yang menyusui lupa pada anak yang disusuinya, anak-anak jadi ubanan, matahari mengalami gerhanan, manusia lupa diri dan setan pun bingung.

Allah SWT berfirman,
"Sesungguhnya goncangan pada hari kiamat adalah goncangan yang sangat besar (dahsyat)."
(QS. Al-Hajj: 1).

TIUPAN SANGKA KALA.
Dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda,
"Apakah kalian mengetahui tentang hari tersebut?"
Merka menjawab,
"Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu."



Nabi Muhammada SAW bersabda,
"Pada hari itu Allah berfirman kepada Adam a.s,
"Bangunlah dan pilihlah dari anak cucumu yang memilih neraka. 'Berpaa orang dari tiap 1000 orang?'
Allah SWT berfirman,
Dari setiap 1000 orang, ada 999 orang di neraka dan satu orang di surga."

Maka sangatlah berat keadaan kaum pada saat itu, kebanyakan mereka menangis dan bersusah hati.
Lalu Rasulullah SAW,
"Sesungguhnya aku mengharapkan 2/3 diantara kalian adalah ahli surga."
Nabi bersabda lagi,
"Bergembiralah kalian, sesungguhnya kalian adalah bagian dari beberapa umat, seperti rambut pada lambung unta, sesungguhnya kalian adalah satu bagian dari seribu bagian umat."




Kemudian Allah SWT memerintahkan Malaikat Israfil untuk meniup sangkakala dengan tiupan yang mematikan, maka ditiup sangkakala dan malaikat israfil berkata,
"Wahai para ruh yang telanjang, keluarlah kalian atas perintah Allah SWT."

Maka binasa dan matilah seluruh penghuni langit dan bumi kecuali orang yang dikehendaki Allah, maka sesungguhnya mereka hidup di sisi-Nya.

Allah SWT berfirman,
"Hai malaikat maut, sesungguhnya Aku menciptakan bagimu sebanyak bilangan orang-orang yang pertama sampai yang terakhir sebagai pemabantu, dan Aku menjadikan untukmu kekuatan langit dan bumi, dan sesungguhnya hari ini Aku memberimu pakaian kemurkaan, maka turunlah dengan kemurkaan-Ku dan cambuk-Ku pada iblis yang terlaknat, maka timpakanlah kematian kepadanya dan bawalah padanya pahitnya kematian orang-orang dari yang pertama sampai yang terkahir dari manusia dan jin dengan berkali-kali lipat.
Dan bawalah besertamu 70.000 malaikat zabaniyah, beserta setiap malaikat sebuah rantai dari neraka Lazha."

IBLIS MENANGIS.
Lalu malaikat maut memanggil para malaikat untuk membuka pintu-pintu neraka, maka turunlah malaikat maut dengan rupa yang sangat menakutkan. Setelah sampai di hadapan iblis, malaikat maut menangkapnya hingga pingsan, iblis menjerit dengan jeritan yang seandainya seluruh penghuni langit dan bumi mendengarnya, maka pingsanlah mereka sebab jeritan iblis tersebut.

Malaikat maut berkata,
"Hai iblis, rasakanlah olehmu kematian pada hari ini, berapakah umur yang telah engkau habiskan dan berapakah lamanya engkau telah menyesatkan (manusia)."

Maka larilah iblis ini ke arah timur dan ketika sampai di timur, malaikat maut sudah berada di sana. Iblis pun berlari ke arah barat dan malikat maut pun sudah berada di sana, kemanapun iblis lari, malaikat maut selalu ditemuinya.

Iblis berkata,
"Hai malaikat maut, dengan gelas apa engkau memberiku minum?"
Malaikat maut menjawab,
"Dengan gelas dari neraka Lazha dan neraka Sa'ir."

Iblis pun terjatuh ke bumi berkali-kali, sehingga ia berada di tempat yang sangat hina dan dilaknati. Lalu malaikat zabaniyah menurunkan gantolan, menarik dan menikamnya dengan tombak, maka iblis itu mengalami naza' (proses pencabutan nayawa) dan sakaratul maut yang teramat menyakitkan.

Tidur Selama 309 Tahun

Kisah Islamiah kali ini bercerita pendek yang kisahnya dipetik dari ayat-ayat suci Al Qur'an surat Al-Kahfi tentang 7 pemuda yang tertidur selama 309 tahun. Mereka otomatis tidak makan dan tidak minum selama itu, namun badan mereka tetap utuh tidak dimakan tanah.
Subhanallah.


BERIKUT KISAHNYA.
Ashabul Kahfi adalah para pemuda yang diberi taufik dan hidayah oleh Allah SWT sehingga mereka beriman dan mengenal Rabb mereka. Mereka mengingkari keyakinan yang dianut oleh masyarakat mereka yang menyembah berhala.
Mereka hidup ditengah-tengah bangsanya sembari tetap menampakkan keimanan mereka ketimbang berkumpul sesama mereka, dan sekaligus karena khawatir akan gangguan masyarakatnya.

Akhirnya mereka bertujuh sepakat terhadap persoalan ini, mereka sadar, tidak mungkin menampakkannya kepada kaumnya. Mereka brdoa kepada Allah SWT agar memudahkan urusan mereka,
"Wahai Rabb kami, berilah kami rahmat dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami."

Mereka pun menyelamatkan diri ke sebuah gua yang telah Allah SWT mudahkan bagi mereka. Gua itu cukup luas dengan pintu menghadap ke utara sehingga matahari tidak langsung masuk ke dalamnya. Kemudian mereka tertidur dengan perlindungan dan pengawasan dari Allah SWT selama 309 tahun.

Allah SWT membuatkan atas mereka pagar berupa rasa takut meskipun mereka sangat dekat dengan kota yang mereka tempati dulu. Allah SWT sendiri yang menjaga mereka selama di dalam gua.
Allah SWT berfirman,
"Dan Kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri."
(QS. Al-Kahfi: 18).

Demikianlah agar jasad mereka tidak dirusak oleh tanah. Setelah tidur sekian ratus lamanya, Allah SWT membangunkan mereka agar mereka saling bertanya, dan supaya mereka pada akhirnya mengetahui hakekat yang sebenarnya.
Allah SWT berfirma,
"Berkatalah salah seorang dari mereka:'Sudah berapa lama kalian menetap di sini?'
Mereka menjawab:'Kita tinggal di sini sehari atau setengah hari.'
Yang lain berkata:'Rabb kalian lebih mengetahui berapa lamanya kalian berada di sini."
Maka suruhlah salah seorang di antara kalian ke kota membawa uang perakmu ini."
(QS. Al-Kahfi: 19).

Setelah mereka tahu benar bahwa mereka telah tidur selama 309 tahun, maka mereka minta kepada Allah untuk dimatikan kembali.
Subhanallah.
Kisah lengkap dalam kitab suci Al Qur'an surat Al-Kahfi.
 
Sumber :
Kisah Teladan Islami 

Jadi Saudara Setan dengan 50 Dinar

Kisah Islamiah kali ini akan menceritakan tentang kisah saudara kembarnya setan yang berupa manusia, dimana saudaranya setan itu ada yang mau bertobat dan ada yang malah makin menjadi zalimnya.

Saudaranya setan adalah, pemabuk, pezina, penjudi, anak yang durhaka kepada orang tuanya, dan orang yang pelit yang akan dikisahkan dalam cerita ini.
Namun diantara semua saudara setan yang disebutkan di atas, hanya si pelit lah yang tidak mau bertobat kepada Allah SWT.

BERIKUT KISAHNYA.
Pada zaman dahulu ada seorang laki-laki yang sudah lama menikah, namun belum dikarunia anak, sebut saja namanya Fulan. Entah putus asa atau karena nekat atau jengkel, si Fulan suatu hari bernazar,
"Seandainya aku dikarunia anak oleh Allah, aku akan bersedekah kepada saudara-saudaranya setan masing-masing 50 dinar."

Wallahu A'lam, apakah karena nazarnya atau memang sudah menjadi kehendak Allah SWT, tak lama kemudian istrinya hamil dan melahirkan seorang putra. Betapa gembiranya si Fulan dan istrinya mendapatkan karunia tersebut.

SETAN INGATKAN NAZARNYA
Pada suatu malam, Fulan bermimpi bertemu dengan setan di dalam tidurnya, setan berkata,
"Wahai Fulan, jangan lupakan nazarmu untuk bersedekah kepada saudara-saudaraku."
"Siapakah saudara-saudaramu?" tanya Fulan.
"Carilah pezina, pemabuk, penjudi, anak yang durhaka kepada orang tuanya dan orang yang pelit serta serakah, mereka itulah saudara-saudaraku," jawab setan.

Setelah terbangun dari tidurnya, tanpa pikir panjang ia langsung mengambil uangnya dan melangkah mencari saudara-saudara setan yang disebutkan dalam mimpi itu. Awalnya si Fulan mencari saudara setan di kampungnya, namun dia tidak menemukan seorang pun.
Akhirnya ia berjalan menuju desa sebelah.

Orang pertama yang dijumpai adalah seorang pezina.
Ketika disodorkan uang sebanyak 50 dinar, pezina heran dan bertanya,
"Dalam rangka apa engkau memberiku uang ini?".
Si Fulan kemudian menceritakan mimpi yang dia alami.
Mendengar cerita mimpi itu, sang pezina langsung saja bersujud dan menangis serta bertobat kepada Allah SWT.
Sang pezina tidak mau kalau dirinya dikatakan saudarnya setan, dan uangnya ditolak mentah-mentah.

Si Fulan berjalan lagi mencari saudaranya setan, dan orang kedua yang ditemui adalah sang pemabuk. Langsung saja si Fulan menyodorkan uang 50 dinar kepada pemabuk itu. Sang pemabuk bertanya,
"Kenapa engkau meberiku uang sebanyak ini, padahal aku adalah pemabuk yang suka menhambur-hamburkan uang untuk membeli minuman keras?"
Si Fulan menjawab,
"Justru itulah aku memberimu uang 50 dinar ini agar kamu bisa membeli minuman keras."
Lalu si Fulan menceritakan mimpinya.

Uang 50 Dinar
Mendengar penuturan si Fulan, pemabuk itu pun jatuh tersungkur, langsung sujud mohon ampun kepada Allah SWT, istighfar diucapkannya berulang kali dan si pemabuk tak mau menjadi saudara kembarnya setan sedikitpun. Dan ia pun tidak mau menerima uang itu.

Penolakan yang sama juga dialami oleh penjudi dan anak yang durhaka kepada orang tuanya.
Dengan langkah lemas si Fulan mencari satu lagi orang yang dianggap saudaranya setan ini. Lama dia mencari dan akhirnya bertemulah dia dengan si pelit bakhil. Tak menunggu lama, si Fulan langsung menuju rumah si pelit ini.
Dalam hati, si Fulan terbersit rasa kekhawatiran, si pelit juga pasti akan menolak pemberian 50 dinar yang dibawanya.


"Assalamu'alaikum...," ucap si Fulan.
"Ada keperluan apa?" jawab si pelit.
"Aku ingin memberimu uang 50 dinar," kata si Fulan dari dalam rumahnya.

Begitu mendengar kata uang, si pelit langsung saja membuka pintu rumahnya dan segera menyambar kantong uang yang ada di tangan si Fulan.
"Mengapa engkau memberiku uang sebanyak ini, apa kau pernah punya hutang kepadaku?" tanya si pelit.

Lalu si Fulan menceritakan nazar serta mimpi yang dialaminya, dan tak lupa dia ceritakan juga pertemuannya dengan pezina, pemabuk, penjudi dan anak yang durhaka kepada orang tuanya.

Mendengar kisah yang disampaikan si Fulan, Si Pelit ini langsung saja memegang tangan si Fulan sambil berkata,
"Kalau mereka tidak mau menerima uangnya, berikan saja kepadaku," bisik si pelit.

Dengan mata terbelalak, si Fulan yang bernazar itu menyerahkan uangnya dan beranjak pergi dari rumah si pelit seraya berkata,
"ENGKAU BENAR-BENAR SAUDARA KEMBARNYA SETAN."
 
Sumber :
Kisah Teladan Islami 

Dialog Rasulullah Dengan Gunung

Tidak hanya mampu berdialog dengan binatang saja mukjizat yang dimiliki oleh Rasulullah SAW, namun juga mampu berdialog dengan gunung, yang merupakan ciptaan Allah yang tidak bernyawa.
Ketika membutuhkan air, Beliau perintahkan gunung itu menuruti perintah Rasulullah SAW.
Kali ini Kisah Islamiah blog akan menceritakannya.


Berikut ini Kisahnya.

Rasulullah SAW adalah sosok yang selalu dekat dengan umatnya, terbukti dengan seringnya Beliau melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya, dari satu desa ke desa lainnya agar lebih mengenal umatnya.
Dalam perjalanan yang dilakukan kali ini, Rasulullah SAW mengajak salah satu sahabatnya yang bernama Uqa'il bin Abi Thalib untuk menemani.

Di perjalanan, ada seorang nenek yang tergeletak lemah di jalanan, wajahnya yang tua renta semakin terlihat menyedihkan akibat pucat dan lemas kondisi tubuhnya.
"Apa yang terjadi dengan engkau Wahai Ibu?" tanya Rasulullah SAW.

Nenek yang kondisinya lemah itu pun menjawab,
"Ak...akkkuuuu laaa...paar.."
Mendengar jawaban itu, Rasulullah yang pada saat itu membawa bekal secukupnya, langsung memberikan bekalnya, hingga habislah bekal Rasulullah SAW kala itu.




Meskipun tanpa bekal sedikit pun, Rasulullah SAW dan Uqa'il tetap melanjutkan perjalanan. Setelah perjalanan panjang ditempuh dengan melewati gurun yang panas dan kering, kondisi Rasulullah SAW dan Uqa'il menjadi melemah karena banyak sekali tenaga yang terkuras untuk melewati hamparan pasir dan panasnya yang membuat dahaga semakin hebat.

KEHAUSAN.
Sesampainya di daerah pegunungan, Rasulullah SAW merasa sangat haus dikarenakan jauhnya perjalanan melewati gurun. Lalu Beliau menyuruh Uqa'il untuk mencari minuman dan buah untuk megisi perut.
Uqa'il pun menuruti perintah Nabi, ditelusurinya gunung untuk mencari sumber air dan pepohonan untuk diambil buahnya, namun Uqa'il tidak mendapati sumber air dan hanya buah-buahan saja yang ia dapat.

"Ya Rasul, aku tidak mendapati air di gunung ini, padahal aku sudah mengelilinginya, namun belum aku temukan juga," ujar Uqa'il.

Mendengar penuturan sahabatnya itu, Rasululullah SAW bersabda,
"Hai Uqa'il, dakilah gunung itu dan sampaikanlah salamku kepadanya serta katakan 'Jika padamu ada air, berilah aku minum'," tutur Rasulullah.

Mendengar jawaban Rasulullah yang tidak masuk akal itu, membuat Uqa'il kebingungan dan tidak mengerti.
namun Uqa'il tetap pergi melaksanakan perintah sembari bertanya-tanya dalam hati,
"Apakah Rasul bersungguh-sungguh dengan ucapannya, apa yang harus aku lakukan, menyampaikan salamnya ataukah hanya diam dan balik ke Beliau lagi," ujar Uqa'il dalam hati.

Walaupun pikirannya penuh dengan keheranan, Uqa'il tetap mendaki gunung. Di tengah pendakian, Uqail mendengar suara asing, dan berkata,
"Uqa'il, pergilah mendaki gunung, patuhilah perintah Beliau," perintah suara yang asing itu yang tak lain adalah Malaikat Jibril.
Uqa'il akhirnya sampai pada puncak gunung lalu menyampaikan salam Rasulullah SAW kepada gunung perihal air yang dibutuhkan dia dan Rasulullah.
Setelah menyampaikan salam, Uqa'il pun kembali menuju tempat Rasulullah SAW.

RASUL MEMERINTAH GUNUNG.
Sesampainya di dekat Rasulullah SAW, betapa kagetnya Uqa'il ketuka melihat Rasulullah berbicaradengan gunung.
"Wahai tauladanku Muhammad, maafkan aku dikarenakan menghambat perjalanan engkau dengan tidak menyediakan air ketika engkau datang.
Aku takut engkau tidak memaafkanku, jika itu terjadi pasti aku merasakan panasnya api neraka," ungkap gunung itu.

Mendengar suara yang berasal dari gunung, membuat Uqa'il semakin bingung dan sekaligus takjub kepada Rasulullah, dikarenakan salah satu ciptaan Allah yang tidak bernyawa itu dapat berbicara dengan Beliau.
"Aku akan memaafkan kamu, tapi bolehkah aku minta sedikit air untuk membasahi tenggorokanku," tutur Rasulullah.

"Dakilah gunung ini hingga sampai puncaknya, setelah sampai, berjalanlah berbelok menuju tempat yang dipenuhi dengan bebatuan besar yang melingkar, di tengahnya terdapat sumber air dan buah-buahan untuk bekal engkau, Wahai Rasulullah," jelas gunung itu kepada Rasul.

Uqa'il berserta Rasulullah SAW akhirnya mendaki gunung itu kembali dan Beliau berjalan sesuai dengan perintah gunung. Sesampainya di tempat yang dijelaskan gunung tersebut, Uqa'il sangat terkejut karena ketika mengelilingi gunung itu tadi, Uqa'il tidak mendapati tempat seindah itu yang terdapat sumber air sangat jernih dan banyaknya pohon yang berbuah segar dan nikmat
 
Sumber :
Kisah Teladan Islami

Iblis Takut Dengan Orang Yang Tidur

Kisah Islamiah hadir lagi, kali ini akan mencoba menceritakan tentang kisah pengakuan dari Iblis mengenai ibadah shalat.

Jika disuruh memilih, ternyata Iblis lebih menyukai ibadah shalat yang dilakukan orang mukmin yang bodoh daripada mengganggu tidurnya orang yang alim dan berilmu.
Pengakuan Iblis itu disampaikan kepada Rasulullah SAW.

Berikut Kisahnya...
Pada suatu hari, ketika Rasulullah SAW hendak memasuki masjid, Beliau melihat iblis sedang berada di pintu masjid. Iblis itu tampak gusar dan ragu antara masuk masjid dan tidak.

Maka Rasulullah SAW pun bertanya,
"Wahai Iblis, apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Rasulullah SAW.
"Aku hendak masuk masjid dan merusak shalatnya orang itu. Tetapi aku merasa takut terhadap orang yang sedang tidur di situ," kata iblis sambil menunjuk orang yang sedang tertidur di masjid.

Rasulullah SAW bertanya lagi,
"Wahai Iblis, mengapa engkau takut terhadap orang yang sedang tidur dan tidak takut kepada orang yang sdeang shalat dan bermunajat kepada Allah?"


PENGAKUAN IBLIS.
Iblis tak dapat menyembunyikan rahasia di hadapan Rasulullah SAW, ia pun dengan gamblang menguraikan alasannya.

"Ya Rasulullah, orang yang sedang shalat tersebut adalah orang yang bodoh, ia tidak tahu syarat hukumnya shalat, tuma'ninah, dan tidak bisa shalat dengan khusyuk.
Sedangkan orang yang sedang tidur itu adalah orang yang alim, maka jika aku merusak shalatnya orang bodoh itu, aku khawatir, dia akan membangunkan orang yang sedang tidur itu dan kemudian mengajari dan membetulkan shalatnya orang yang bodoh tadi," jelas Iblis ketakutan.

Oleh karena itu Rasulullah SAW pernah bersabda,
"Tidurnya orang alim itu lebih baik daripada ibadahnya orang yang bodoh."

Dalam kesempatan lain, Rasulullah SAW juga bersabda,
"Orang tersebut telah dikencingi setan di kedua telinganya."
Hal ini disampaikan oleh Rasulullah SAW dan ditujukan bagi orang yang tidur semalam suntuk tanpa mengingat untuk shalat di malam harinya.

Sumber :
Kisah Teladan Islami

Dialog Raja dan Malaikat Maut

Sahabat Yazid Arruqasyu meriwayatkan, pada masa Bani Israil ada seorang penguasa zalim.
Dalam berkuasa, raja tersebut menindas rakyat dan tidak perbah berbuat kebajikan. Pada suatu hari raja tersebut duduk di singgasananya dan tiba-tiba ia melihat seorang laki-laki masuk melalui pintu istana.

Orang asing itu bertampang keji, berbadan besar dan menakutkan.
Raja sangat ketakutan dengan kehadirannya, dia khawatir laki-laki itu akan menyerangnya. Wajahnya pucat pasi dan bergetar,
"Siapakah engkau ini? Siapa yangtelah menyuruhmu masuk ke istanaku?" tanya raja ketakutan.

"Pemilik rumah ini yang menyuruhku ke sini. Ketahuilah bahwa tak ada dinding yang dapat menghalangiku, dan aku tidak memerlukan izin untuk masuk ke manapun," kata laki-laki asing itu dengan suara agak kasar.

"Apakah engkau tidak takut dengan para sultan di kerajaanku ini?" tanya raja dengan gemetar.
"Aku tidak takut oleh kekuasaan para sultan. Dan ketahuilah, tidak ada seorangpun yang dpat lari dari jangkauanku," kata laki-laki itu dengan bengisnya.

MALAIKAT MAUT DATANG
Setelah mendengar perkataan orang itu, wajah raja menjadi pusat pasi dan badannya menggigil, ia amat ketakutan dengan situasi ini.
"Apakah engkau Malaikat Maut?" tanya raja menebak.
"Benar, akulah Malaikat Maut yang diutus untuk mencabut nyawamu," kata malaikat maut tanpa tersenyum sedikitpun.
"Aku bersumpah demi Allah, berilah aku penangguhan satu hari saja agar dapat bertobat dari segala dosaku. Aku akan memohon keringanan dari Tuhanku. Aku akan menginfakkan harta benda yang aku miliki, hingga tak terbebani oleh azab akibat harta itu di akhirat kelak," pinta raja.

"Bagaimana aku dapat menangguhkan, padahal umurmu sudah habis dan waktu sudah ditetapkan tertulis," kata Malaikat Maut.
"Aku mohon tangguhkanlah sesaat saja," rayu raja sekali lagi.

"Sesungguhnya jangka waktu itu telah diberikan, tetapi engkau lalai dan menyia-nyiakannya. Jatah nafasmu sudah habis, tidak tersisa satu nafaspun untukmu," ujar Malaikat Mautyang mendekat seolah henadak mencabut nyawa raja.

MATI BELUM BERTOBAT
Raja semakin ketakutan dengan kata-kata Malaikat Maut itu. Namun ia tetap bersikeras ingin meminta penangguhan kematian.
"Jika aku mati sekarang, siapa yang akan menyertaiku di alam kubur?" tanya raja zalim itu.
"Tidak ada yang menyertaimu kecuali amalmu," jawab Malaikat Maut.
"Aku tidak mempunyai amal kebaikan. Selama ini aku lalai kepada Allah SWT," jelas raja zalim itu.

"Jika demikian, neraka dan murka Allah adalah tempat yang layak untukmu," tegas Malaikat Maut.
Kemudian Malaikat Maut mencabut nyawanya, sehingga raja itu terjatuh dari singgasananya. Dan sang raja akhirnya mati sebelum bertobat.

Datangnya maut tidak dapat ditunda sedetik pun, apapun jabatan seseorang. Permintaan penangguhan ditolak mentah-mentah oleh Malaikat Maut yang langsung mencabut nyawanya.

Sumber :
Kisah Teladan Islami

Sedekah Menunda Kematian Bagian Dua

Keesokan harinya Nabi Ibrahim berjalan menuju rumah pemuda tersebut, dan alangkah terkejutnya Nabi Ibrahim melihat pemuda itu masih dalam keadaan hidup.
Dan pemuda itu akhirnya melangsungkan pernikahan dengan lancar.
Nabi Ibrahim turut bahagia melihat muridnya menikah.

Walau senang, terbesit rasa sedih, rasa kasihan karena Nabi Ibrahim tahu bahwa kebahagiaannya tak akan lama.
Namun keadaan berkata lain.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun, Nabi Ibrahim malah melihat anak muda ini panjang umurnya, hingga usia anaj muda ini 70 tahun.

Nabi Ibrahim merasa penasaran, dan tak lama kemudian malaikat datang menemuinya.
Langsung saja Nabi Ibrahim menanyakan tentang keganjilan itu, karena Malaikat tidak pernah akan berbohong.

"Apa gerangan yang membuat Alloh SWT menahan tanganmu untuk tidak mencabut nyawa anak muda itu dulu?" tanya Nabi Ibrahim.
"Wahai Ibrahim, di malam menjelang pernikahannya, anak muda tersebut menyedekahkan separuh dari kekayaannya. Dan ini yang membuat Alloh memutuskan untuk memanjangkan umur anak muda tersebut hingga engkau masih melihatnya hidup hingga sekarang," jelas Malaikat.

Kematian memang di tangan Alloh, kawan.
Memajukan atau memundurkan kematian adalah hak Alloh, dan Alloh memberitahu lewat RasulNya.

Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa sedekah itu bisa memanjangkan umur.
Jadi, bila disebut ada sesuatu yang bisa menunda kematian, itu adalah SEDEKAH.
Jadi tunggu apa lagi, mari kita bersedekah. 
 
Sumber :
Kisah Teladan Islami

Mukjizat Kalimat Tasbih Nabi Yunus

Kisah Islamiah kali ini akan menceritakan tentang Mukjizat Tasbih Nabi Yunus.

Nabi Yunus a.s pernah mendapatkan peringatan dari Allah SWT karena telah meninggalkan umatnya.
Tubuhnya dimakan oleh seekor ikan Paus, namun akhirnya Nabi Yunus dimuntahkankembali dalam keadaan selamat berkat bertobat dan membaca kalimat tasbih.

Kalimat Tasbih.
Kalimat tasbih yang diucapkan oleh Nabi Yunus a.s terjadi di dalam perut ikan paus.
Nabi Yunus diuji oleh Allah SWT karena kurang sabar dan telah meninggalkan kaumnya.
Dikisahkan bahwa Nabi Yunus a.s diperintah oleh Allah SWT untuk berdakwah pada kaum Ninawa.

Negeri Ninawa tersebut adalah negeri yang paling kaya dan besar di masa itu.
Namun sayang, kelapangan rejeki dan kekayaannya yang luar biasa itu justru menyebabkan penduduknya sesat dan tidak beriman kepada Allah SWT.
Mereka melakukan berbagai perbuatan yang dilarang Allah SWT, diantaranya kemaksiatan menyembah berhala dan tidak mau beriman kepada AllahSWT.

Selama bertahun-tahun, Nabi Yunus mengajak umatnya untuk beriman kepada Allah, namun tak ada kaumnya yang mengikuti seruannya, bahkan mendustakan Nabi Yunus a.s, bahkan berusaha menentang ancaman-ancaman yang disampaikannya.




Dimakan Ikan Paus.
Karena tak ada kaumnya yang mau beriman kepada ALlah SWT, Nabi Yunus akhirnya merasa putus asa dan akhirnya meninggalkan kaumnya di saat ancaman dan azab sudah mulai tampak di langit.
Tak Mau dirinya mendapatkan siksa dan azab Allah akibat perbuatan kaumnya yang tak beriman itu, Nabi Yunus pun segera meninggalkan kaumnya dalam keadaan marah.

Sepeninggal Nabi Yunus, penduduk Ninawa sedang menyaksikan tanda-tanda siksa akan segera turun sebagaimana yang disampaikan oleh Nabi Yunus a.s, yakni langit tampak menghitam, awan mendung, dan hujan lebat tampaknya akan segera turun.
Mereka pun kemudian menyatakan beriman kepada Allah SWT dan membenarkan apa yang disampaikan Nabi Yunus.

Namun, keimanan dan kesaksian kaum Ninawa tak disaksikan oleh Nabi Yunus a.s yang sudah terlanjur pergi.
Sebaliknya Nabi Yunus a.s yang meninggalkan umatnya justru mendapatkan kesulitan.
Sesaat setelah tiba di tepi pantai, nabi Yunus menumpang sebuah kapal.
Dalam pelayarannya, tiba-tiba laut bergelombang hebat, bahkan angin bertiup kencang.
Karena khawatir akan keselamatan seluruh penumpang, nahkoda pun melakukan pengundian agar salah seorang penumpang keluar dari kapal.

Saat pengundian dilangsungkan, nama yang munculadalah Nabi Yunus a.s.
Ketika sampai tiga kali dilakukan dan nama yang muncul adalah nama Nabi Yunus terus, akhirnya Nabi Yunus pun harus keluar dari kapal yang ketika itu berada di tengah-tengah lautan.
Menyadari semua itu sudah takdir Allah SWT, maka Nabi Yunus pun merelakan dirinya terapung-apung di laut lepas.
Atas kehendak Allah, Nabi Yunus pun dimakan seekor ikan paus.


Mendapat Ampunan Allah.

Dalam perut ikan paus tersebut, Nabi Yunus menyadari akan kesalahannya karena meninggalkan umatnya.
Ia pun senantiasa berdoa dan memohon ampun kepada Allah atas segala kesalahannya dengan mengucapkan,
"Laa ilaha illa Anta, Subhanaka ini kuntu minadh dhaalimin."
Artinya:
"Tidak ada Tuhan selain Engkau.Maha Suci Engkau.Sesungguhnya saya termasuk orang-orang yang dholim."

Demikian doa Nabi Yunus dalam perut ikan paus sebagaimana yang menjadi asbabun nuzul surat Al-Anbiyaa' ayat 87.
Allah SWT mendengar doa Nabi yunus dan mengampuninya.
"Kalau ia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit (kiamat)."
(QS. Al-Shaafaat: 143-144).

Nabi Yunus pun akhirnya dapat keluar dari perut ikan paus setelah ia dimuntahkan ke daratan.
Setelah beberapa saat, akhirnya ia kembali ke Ninawa dan mendapat kaum yang beriman.
Ia pun disambut umatnya yang berjumlah mencapai 100 ribu orang, dan umatnya mendapatkan kenikmatan yang luar biasa di waktu yang telah ditentukan.

Mari kita ambil hikmah, suri tauladan sekaligus uswah dari kisah Nabi Yunus a.s ini 
 
Sumber :
Kisah Teladan Islami

Kisah Jin Qarin Pembisik Kejahatan

Kisah Jin Qarin
Qarin menurut bahasa artinya pendamping atau teman.

Pada diri manusia ada 2 Qarin yang selalu mengikut, yaitu dari bangsa Jin dan Malaikat.
Jika Qarin dari malaikat jelas keislamannya.
Namun jika jin Qarin, mereka selalu membisikkan kejahatan pada diri manusia.

Ini Kisah Jin Qarin
Qarin dari jenis Jin hanya bertugas membisiki manusia untuk berbuat kejahatan dan kemaksiatan.

Sedangkan Qarin dari malaikat hanya bertugas untuk membisiki manusia untuk berbuat kebajikan dan ketaatan.

Al-Qadhi 'Iyadh r.a berkata,
"Sesungguhnya malaikat dan syetan (yang menjadi Qarin) senantiasa menyelimuti hati kita, seperti malam dan siang yang menyelimuti bumi.
Diantara manusia ada yang malamnya lebih panjang dari siangnya, dan yang lain malah sebaliknya.
Ada juga manusia yang hatinya terang terus menerus dan ada pula yang gelap terus menerus."

Dia melanjutkan,
"Hadits tersebut memberitahu kepada kita, barangsiapa yang mendapati hatinya cenderung berbuat baik, hendaklah ia memuji Allah, berterima kasih kepada-Nya.
Tapi apabila ia mendapati hatinya cenderung berbuat maksiat, maka mohonlah perlindungan kepada-Nya."

PERUSAK KEHIDUPAN
Ibnu Katsir r.a menafsirkan surat An-Nar,
"Bahwa yang di maksud dengan al-waswasul Khannas dalam surat tersebut adalah syetan yang disertakan ke manusia.
Karena tidak seorang pun dari keturunan Nabi Adam, kecuali ia mempunyai Qarin.

Qarin itulah yang menghiasi keburukan dan kekejian, tidak seorang pun yang selamat darinya kecuali berlindung kepada Allah." 
 
Sumber :
Kisah Teladan Islami

Janji Pemabuk

Al kisah...
Seorang pemabuk berjalan sempoyongan pulang ke rumah di malam hari.
Di tengah jalan, ia dicegat oleh 2 orang begal.

"Serahkan semua uangmu!" kata salah satu dari perampok.
Si pemabuk dengan gemetar meraba-raba kantung bajunya untuk mencari sisa uang yang barangkali masih ada.

Dengan setengah sadar, ia masih ingat sepertinya masih punya uang di kantung bajunya.
Tapi ia heran karena tangannya tak menemukan apa-apa.

"Kalau kamu tidak menyerahkan uangmu, kamu akan kami bunuh!" perampok kedua mengancam sambil menempelkan ujung pisaunya di leher si pemabuk.

Dengan gemetar, si pemabuk menjawab,
"Beri aku waktu sebentar."
Perampok itu menarik kembali pisaunya.


Pemabuk itu lalu berlutut di tanah, kedua telapak tangannya menengadah ke langit.
Ia berdoa di dalam hati,
"Tuhan, tolonglah aku. Jika Engkau selamatkan aku dari perampok ini, aku berjanji tidak akan mabuk-mabukan lagi."

Begitu si pemabuk selesai berdoa, ia merasa ada sesuatu yang jatuh dari dalam bajunya.
Ternyata sekeping uang perak.
Menyadari bahwa ia sudah mendapatkan apa yang ia butuhkan, ia segera melanjutkan,
"Tuhan, lupakan doaku."

Ini hanya sebuah contoh cerita, kisah yang sering kita jumpai.
Kisah islamiah ini mari kita renungkan.

Pemabuk itu menganggap bahwa uang yang jatuh dari dalam bajunya tadi bukan pemberian Tuhan atas doanya, sehingga ia punya alasan untuk tetap mabuk-mabukan lagi.

Kita begitu mudah berjanji, sering kali atas nama Tuhan, dan begitu mudah pula melupakannya.

Betapa mudahnya kita melanggar janji yang sudah kita sepakati.
Lebih buruk lagi, kita tidak pernah mau mengakui bahwa kita telah melanggar janji.

Wallahu A'lam..

Sumber :
Kisah Teladan Islami

Detik-Detik Wafatnya Nabi Adam as

Kisah Islamiah hadir sebagai pendamping saat berbuka puasa.
Kali ini dengan kisah Nabi Adam as.
Sebuah kisah mengenang detik-detik akhir wafatnya Nabi Adam asa.

Nabi Adam as sebelum meninggal dunia terlebih dahulu beliau menderita sakit.
Pada hari jumat sebelum beliau wafat, beliau memberikan wasiat kepada ahli warisnya,
Bagaimana kisahnya.

Nabi Adam as dan Siti Hawa

Kisahnya.
Sebagai pedoman dari kisah ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani dan Ibnu Katsir, Al Qur'an, Ubay bin Ka'ab.
Setelah terbunuhnya putra Adam as yang bernama Habil, bukan main rasa sedih yang dialami oleh Nabi Adam as. Isak tangis pun terdengar bertahun-tahun mengiringi kepergiannya.

Pada akhirnya, Allah SWT memberikan pengganti, seorang anak yang bernama Syits.
Syits artinya adalah pemberian Allah SWT untuk menggantikan Habil.
Setelah Syits beranjak dewasa, Nabi Adam pun memberikan kepercayaan kepada Syits serta memberikan semua ilmunya kepadanya.
Bahkan ketika akan wafatpun Nabi Adam as memberikan wasiat kepada Syits untuk menggantikan dalam memimpin anak keturunannya untuk beribadah kepada Allah SWT.

Usia 960 tahun.
Setelah hidup selama 960 tahun dan sudah pula memiliki banyak keturunan, tibalah saatnya Nabi Adam as untuk bertemu Allah SWT.

Ibnu Katsir berkata,
"Para ahli sejarah telah menceritakan bahwa Adam as tidak akan meninggal kecuali ia sudah meliaht keturunannya, dari anak, cucu, cicit terus ke bawah yang jumlah mencapai 400 ribu jiwa."

Dalam Al Qur'an, Allah SWT berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Artinya:
"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya[1] Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain[2], dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

Penjelasan ayat:
[1] Maksud dari padanya menurut jumhur mufassirin ialah dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam a.s. berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim. di samping itu ada pula yang menafsirkan dari padanya ialah dari unsur yang serupa Yakni tanah yang dari padanya Adam a.s. diciptakan.

[2] Menurut kebiasaan orang Arab, apabila mereka menanyakan sesuatu atau memintanya kepada orang lain mereka mengucapkan nama Allah seperti :As aluka billah artinya saya bertanya atau meminta kepadamu dengan nama Allah.

Konon,
Nabi Adam as jatuh sakit beberapa hari hingga pada hari Jumat datanglah malaikat untuk mencabut nyawanya sekalian bertakziah mengungkapkan bela sungkawa kepada pemegang wasiatnya yaitu Syits.



Nabi Adam as Dishalati Malaikat.
Ubay bin Ka'ab meriwayatkan.
Sesungguhnya ketika akan datang wafat, Nabi Adam as berkata kepada anak-anaknya,
"Wahai anak-anakku, sesungguhnya aku menginginkan buah dari surga."

Maka, pergilah anak-anak beliau untuk mencari buah dari surga.
Ketika dalam perjalanan, mereka bertemu dengan para malaikat yang membawa kain kafan, ramuan minyak wangi untuk mayat, kapak, cangkul dan keranda.

Para malikat itu berkata kepada anak-anak Adam as,
"Wahai anak-anak Nabi Adam as, apa yang kalian kehendaki dan apa yang kalian cari?"
"Bapak kami sedang sakit, ia menginkan buah dari surga," kata salah satu anak Adam as.
"Kembalilah kalian, sungguh saat ini telah datang keputusan kematian bagi bapakmu," kata malaikat.

Sesaat kemudian, malaikat sudah mendatangi nabi Adam as.
Ketika mereka tiba di rumah, Siti Hawa kaget sesaat sebelum akhirnya mengerti maksud kedatangan malaikat tersebut.
"Wahai Adam, minta tangguhlah kematianmu," kata Ibu Hawa.
"Pergilah engkau dariku, sungguh aku diciptakan sebelummu. Biarkan nyawaku dicabut oelh para malaikat Rabbku," kata Nabi Adam as.

Akhirnya,
Para malikat mencabut nyawa Nabi Adam as pada hari Jumat. Para malaikat memandikannya, mengkafani, mengoleskan ramuan minyak wangi serta menggali liang kubur untuk Adam as.
Selanjutnya mereka menyalatinya lalu memasukkannya ke liang kubur dan menempatkannya di liang lahat.

Para malaikat juga meratakan tanah kuburnya.
Lalu para malaikat berkata,
"Wahai anak Adam, inilah tuntunan bagi kalian pada orang mati di antara kalian."

Wassalam...
Selamat berbuka puasa. 
 
Sumber :
Kisah Teladan Islami

Kisah Cincin Nabi Sulaiman as Hilang

Walaupun Baginda Nabi Sualiman as hebat dan pintar, namun Beliau juga pernah digoda oleh setan atau Iblis.

Dikisahakan oleh Wahab bin Munabbib.
Nabi Sulaiman as ini selalu mengenakan cincin di jarinya dan tidak pernah dilepas baik pada siang ataupun malam, kecuali kalau beliau akan masuk ke kamar kecil barulah cincin itu dilepasnya.


Kisahnya
Pada suatu hari nabi Sulaiman as akan pergi ke kamar kecil, maka cincin tersebut dititipkan kepada bawahan yang dipercayainya. Di atas cincin itu tertulis nama Allah SWT. Ketika Nabi Sulaiman as berada di kamar kecil itulah setan datang dan mendekati bawahannya yang membawa cincin. Rupa dan bentuk setan itu sama persis dengan Nabi Sulaiman as. Sang ajudan pun tidak ragu sedikitpun, lalu diserahkannya cincin itu kepada setan yang menjelma menjadi Nabi Sulaiman as tersebut.

Setelah itu, setan itu memakai cincin itu di jari manisnya.
Setan kemudian menghadap para hulu balang dan duduk dengan tenangnya di atas singgasana kerajaan Nabi Sulaiman as. Saat itu pula maka datanglah semua anggota kerajaan baik yang dari golongan jin maupun manusia, para burung dan binatang lainnya. Mereka semua mengira bahwa yang duduk di singgasana itu adalah Nabi Sulaiman as yang asli.

Ketika Nabi Sulaiman as keluar dari kamar kecil, ia meminta cincin dari anak buahnya tadi, dan betapa kagetnya si anak buah karena cincin tadi telah diberikan kepada Sang Raja. Si anak buah dengan wajah agak heran, lalu bertanya kepada Sang Raja,
"Wahai Sang Raja, siapakah Anda ini?"
"Aku adalah Rajamu wahai pengawalku."
"Ampun paduka, bukankah Tuanku tadi telah meminta cincin tersebut lalu segera pergi keluar dan duduk di singgasana kerajaan..?"

Ditolak Penduduk Sekitar
Namanya juga NABI...
Benar saja, Nabi Sulaiman as telah mengetahui bahwa sesungguhnya setanlah yang telah menipu para pengawalnya.
Nabi Sulaiman as akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan istana menuju tempat yang sepi, yaitu di hutan. Dalam perjalanannya yang jauh itu, kadang-kadang beliau terpaksa meminta makanan kepada penduduk sekitar.

Orang-orang kampung bertanya,
"Wahai Saudara, siapakah Anda ini?"
"Aku adalah Sulaiman bin Dawud," jawab Nabi Sulaiman as.
"Kami tidak percaya. Kalau engkau adalah Sulaiman bin Dawud, pastilah engkau memakai cincin yang bertuliskan Allah SWT," sergah salah seorang penduduk.

Orang-orang penduduk sekitar tidak percaya sama sekali dengan pernyataan Nabi Sulaiman as.
Akhirnya Nabi Sulaiman melanjutkan perjalanan lagi, mengembara selama 40 hari 40 malam dengan menanggung rasa lapar yang amat sangat dan pakaian yang compang-camping, lagi kepalanya terbuka. Beliau datang ke pesisir pantai dan berteman dengan para nelayan yang mencari ikan di laut.

Dibantu Anak Buahnya yang Alim
Pada suatu hari, Ashif bin Barkhaya (seseorang yang diberi ilmu oleh Allah SWT, yang juga anak buah Nabi Sulaiman) berkata kepada kaum Bani Israil, bahwa cincin Nabi Sulaiman as telah diambil alih oleh setan, lalu Nabi Sulaiman as pergi. Ketika setan sedang sedang duduk di singgasana kerajaan, Ashif menolak dengan tegas bahwa dia bukanlah Nabi Sulaiman as. Maka setan itu pun akhirnya lari dan membuang cincin itu ke tengah laut dan dimakan ikan.

Dari situlah Allah SWT mengarahkan Nabi-Nya ke tempat para nelayan dengan tujuan agar Nabi Sulaiman as memburu ikan yang menelan cincinnya itu. Atas perintah Allah SWT, ikan itu merapat ke pinggir dan berhasil ditangkat oleh Nabi Sulaiman as. Setelah itu, perut ikan itu dibedah dan ditemukan sebuah cincin yang beliau cari.

Setelah cincin diambil dan dipakai, Nabi Sulaiman as langsung sujud syukur kepada Allah SWT.
Nabi Sulaiman as akhirnya dapat memimpin kerajaannya kembali seperti sedia kala.

Allah SWT berfirman,

وَلَقَدْ فَتَنَّا سُلَيْمَانَ وَأَلْقَيْنَا عَلَى كُرْسِيِّهِ جَسَدًا ثُمَّ أَنَابَ

Artinya:
"Dan Sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian ia bertaubat."
(QS. As-Shaad: 34).

Sumber :
Kisah Teladan Islami

Pembunuhan Terhadap Nabi Yahya

Kisah Islamiah malam ini tentang pembunuhan Nabi Yahya as oleh Seorang Raja yang bengis dan kejam. Awal mulanya Nabi Yahya disuruh untuk membenarkan yang bathil, namun Nabi Yahya as bersikukuh menolak hingga dibunuhlah Nabi Yahya as yang mulia ini.

Nabi Yahya as menolak dengan keras rencana pernikahan Raja Herodus dengan ank kandungnya. Karena pernikahan yang seperti itu dilarang dalam hukum Allah SWT.

Kisahnya.
Dakwah yang dilakukan oleh Nabi Yahya as tidak setengah-setengah. Ia tetap konsisten mengatakan yang benar itu benar dan yang salah tetaplah salah, seperti penolakannya terhadap rencana pernikahan Raja Herodus dengan putri kandungnya sendiri yang bernama Hirodia.

Pendapatnya tetap kuat meski yang dihadapinya adalah seorang raja.
"Pernikahan itu tidak akan saya akui, malah saya akan tetap menentangnya sampai kapanpun," ucap Nabi Yahya as kepada masyarakat yang menunggu keputusannya.
"Baiklah, kami juga tidak akan membenarkan pernikahan itu," ujar masyarakat kepada Nabi Yahya as.

Pada saat itu, memang Nabi Yahya as telah menjadi panutan masyarakat. Apapun yang diucapkannya senantiasa diikuti, begitu pula sesuatu yang dilarang juga akan dipatuhi.
Alasan Nabi Yahya as melarang pernikahan itu sangalah kuat, yaitu karena Hirodia merupakan anak kandung dari Raja Hirodus itu sendiri. Pernikahan seperti itu sangatlah dilarang oelh Allah SWT.

Hirodia Merayu Nabi Yahya as.
Hirodia memang tengah menjadi buah bibir setiap pemuda Palestina. Kecantikannya seperti bulan purnama, matanya jernih laksana bintang kejora, tubuhnya ramping dan seksi dengan rambut hitam yang panjang semakin menambah cantik wajahnya.

Pada akhirnya, kabar penolakan Nabi Yahya as terhadap rencana pernikahna itu sampai juga ke telinga Hirodia. Ia sangat terkejut sekaligus takut bila renca menjadi permaisuri tidak menjadi kenyataan. Karenanya, ia membuat siasat untuk merayu Nabi Yahya as dengan modal kecantikannya.

Setelah berhias secantik mungkin, Hirodia menyelinap masuk ke kamar Nabi Yahya as.
"Wahai Yahya, tidak tertarikkah engkau kepada tubuhku ini?" rayu Hirodia sambil memperlihatkan tubuhnya.
"Hirodia, tutuplah tubuhmu, ketahuilah bahwa orang-orang yang melakukan mesum akan disiksa di hari kiamat dan berbau lebih busuk dari bau bangkai," tolak Nabi Yahya as pada ajakan Hirodia untuk berbuat mesum.

Mendengar jawaban Nabi Yahya as yang demikian, Hirodia menjadi sangat jengkel. Ia lantas meminta kepada Herodus agar membunuh Nabi Yahya as.
"Sekiranya engaku benar-benar cinta kepadaku, aku ingin bukti darimu," ucap Hirodia kepada Raja Herodus.
"Bukti apa yang engkau inginkan?" tanya Raja Herodus.
"Aku ingin engkau membunuh Nabi Yahya as agar tidak ada lagi orang yang menentang rencana pernikahan kita," jelas Hirodia.

<p>Your browser does not support iframes.</p>
Nabi Yahya as Rela Dibunuh Demi Kebenaran dan Takut Azab Allah SWT.
Raja Herodus yang terkenal dengan kekejamannya itu langsung menyanggupi permintaan calon permaisurinya. Dengan segera ia menyuruh para prajuritnya untuk menangkap Nabi Yahya as.

Setelah tertangkap, Nabi Yahya as dimasukkan ke dalam penjara.
"Wahai Yahya, jelaskan mengapa engkau melarang rencana pernikahan kami?" tanya Raja Herodus.
"Ketahuilah bahwa Allah SWT melarang pernikahan antara ayah dan anak. Allah SWT juga melaknat siapa saja yang melakukan pernikahan seperti itu," jelas Nabi Yahya as.

"Kami tidak peduli, sekarang akuilah dan umumkanlah kepada rakyatku bahwa engkau merestui rencana pernikahan kami," ujar Raja Herodus.
"Demia Allah SWT, aku tidak akanmengatakan benar bila kenyataannya iitu salah," jawab Nabi Yahya as tidak gentar sedikitpun.
"Baiklah, kalau engkau tidak mau merestui, maka engkau akan aku bunuh," ancam Raja Herodus.
"Tidak ada sesuatu pun yang aku takuti kecuali azab Allah SWT," jawab Nabi Yahya as dengan tenangnya.

Nabi Yahya as tetap saja bersikukuh pada pendirian dan keutusannya. Ia rela dibunuh daripada ikut menanggung azab Allah SWT karena ikut membenarkan pernikahan yang terlarang itu.

Akhirnya, Raja Herodus menyuruh prajuritnya untuk membunuh Nabi Yahya as. Darah pun mengucur dengan derasnya mengiringi kematian Nabi Yahya as yang sangat disegani oleh rakyat Herodus itu. Beliau pun tewas dalam memegang syariat agama Allah SWT.

Dari kisah inilah, Allah SWT mengutuk kekejaman Raja Herodus yang telah membunuh Nabi Yahya as. Kutukan tersebut terdapat dalam ayat suci Al Qur'an Surat An-Nisaa ayat 93.
Allah SWT berfirman,

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

Artinya:
"Dan Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja Maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya."

Maha benar Allah SWT dengan segala Firman-Nya.

Sumber :
Kisah Teladan Islami

Dialog Malaikat Jibril dan Rasulullah tentang Neraka

Kisah islamiah pada pagi hari ini tentang dialog antara Malaikat jibril dan Rasulullah SAW tentang Neraka.
Rasulullah SAW pernah mengalami kesedihan yang luar biasa sehingga sampai menitikkan air mata.

Rasulullah SAW sedih apabila nantinya ada dari umatnya yang termasuk golongan ahli neraka, karena neraka memiliki 7 buah pintu yang masing-masing disesuaikan dengan amal ibadahnya.


Kisahnya.
Nabi Muhammad SAW suatu ketika didatangi oleh Malaikat Jibril yang akan menurunkan wahyu dari Allah SWT mengenai neraka dan pintu-pintunya.
Rasulullah SAW kemudian meminta Malaikat Jibril untuk menyebutkan golongan umat yang kelak akan melewati pintu-pintu itu.

"Wahai Jibril, siapakah yang akan menempati pintu pertama?" tanya Rasulullah SAW.
"Pintu pertama dinamakan Hawiyah, yang diperuntukkan bagi kaum munafik dan kafir," jawab Malaikat Jibril.

Rasulullah SAW Sangat Sedih.
"Lalu siapakah yang akan melewati pintu kedua? tanya Rasul kembali.
"Pintu kedua dinamakan Jahim, yang diperuntukkan bagi kaum musyrikin," jelas Malaikat jibril.
"Bagaimana dengan pintu ketiga?" tanya Rasulullah SAW kembali.
"Pintu ketiga dinamakan Saqar, yang diperuntukkan bagi kaum Shobiin atau kaum penyembah api," jawabMalaikat Jibril.

"Selanjutnya pintu keempat untuk siapa?" tanya Rasulullah SAW.
"Pintu keempat dinamakan Ladha, untuk iblis dan pengikutnya," jawab Jibril.

Rasulullah SAW terdiam sejenak, ia berharap tidak ada satu pintu neraka yang diperuntukkan bagi umatnya.
"Kemudian pintu kelima dan keenam untuk siapa?" kata Rasululah SAW.
"Pintu kelima dinamakan Huthomah, diperntukkan bagi Yahudi, sedangkan pintu keenam dinamakan Sa'ir untuk kaum kafir," jelas Malaikat Jibril.

Ada Pintu Neraka untuk Umat Muhammad.
"Wahai Jibril, sekarang ceritakanlah kepadaku tentang pintu neraka yang ke tujuh itu?" pinta Rasulullah SAW.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Malaikat Jibril sejenak diam seperti ragu hendak menceritakannya. Akan tetapi karena Rasululah SAW terus mendesaknya, maka Malaikat Jibril tak kuasa menolaknya.

"Ya Rasulullah, pintu ke tujuh itu diperuntukkan bagi umatmu yang berdosa besar dan meninggal dunia sebelum mengucapkan tobat," jelas Malaikat Jibril yang sedikit ketakutan.

Begitu mendengar penjelasan yang terkahir ini, Rasulullah SAW langsung pingsan seketika itu juga. Beliau tak menyangka bahwa umatnya pun disediakan tempat di neraka. Setelah sadar dari pingsannya, Rasululah SAW masih tampaksedih sekali. Beliau tidak dapat menahan air matanya yang mengalir deras.

Sungguh Nabi dan Rasul yang snagat peduli terhadap umatnya, bahkan setelah sepeninggalnya.
Semoga kita mendapat syafa'at dari Rasulullah SAW ini.
Amiin.

"Wahai Jibril, aku sangat sedih sekali mendengar penjelasanmu. Apakah ada umatku nanti yang akan masuk ke pintu ke tujuh itu?" tanya Rasulullah SAW dengan kesedihan yang mendalam.
Dan ternyata Malikat Jibril mengangguk yang berarti memang ada dari umat Nabi Muhammad yang masuk ke neraka melalui pintu ke tujuh.
Namun, hanya umat Nabi Muhammad SAW yang melakukan dosa besar dan mati sebelumbertobat saja yang akan melewati pintu ke tujuh itu.

<p>Your browser does not support iframes.</p>
Asbabun Nuzul.
Selama beberapa hari setelah kedatangan Malaikat Jibril itu, Rasulullah SAW tidak berbicara dengan orang lain.
Beliau hanya mengurung diri di rumahnya. Beliau hanya keluar rumah kalau ke masjid ketika tiba waktu shalat, setelah shalat Beliau kembali mengurung diri di rumah.

Para sahabat yang melihatnya pun juga turut sedih dan meneteskan air mata. Mereka kemudian berkunjung ke rumah RasulullahSAW dan menanyakan perihal perasaan sedih yang dialami.
"Ya Rasululah, mengapa engkau tampak sangat sedih sekali," tanya salah seorang sahabat.
"Wahai sahabatku, sesungguhnya Jibril telah datang kepadaku dan menyampaikan wahyu tentang neraka yang memiliki tujuh pintu," ujar Rasulullah SAW.

"Ya Rasulullah, adakah salah satu pintu untuk kami semua?" tanya sahabat.
Dengan menitikkan air mata, Rasululah menganggukkan kepala.
"Salah satu pintu itu diperuntukkan bagi umatku yang mnelakukan dosa besar dan mati sebelum betobat kepada Allah SWT," ujar Rasulullah SAW.

Setelah sejenak terdiam, Rasulullah SAW melanjutkan penuturannya.
"Oleh karena itu, janganlah sekali-kali terpengaruh oleh tipu daya iblis, karena ia adalah musuh yang nyata dan akan menjerumuskan ke neraka," lanjut Rasulullah SAW kepada para sahabatnya.

Kisah inilah yang merupakan asbabun nuzul atau sebab turunnya ayat Al Qur'an, Surat Al Hijr ayat 14.
Allah SWT berfirman,
لَهَا سَبْعَةُ أَبْوَابٍ لِكُلِّ بَابٍ مِنْهُمْ جُزْءٌ مَقْسُومٌ
Artinya:
"Jahannam itu mempunyai tujuh pintu. tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka."\
 
Sumber :
 Kisah Teladan Islami

Asal Mula Ka'bah

Dahulu Ka'bah dibangun oleh Nabi Ibrahim as dibantu anaknya, Nabi Ismail as. Kini para jamaah dari seluruh penjuru dunia banyak berdatangan ke Masjidil Haram untuk tawaf di Ka'bah.


Kisahnya.
Kisah awal mula dibangunnya Ka'bah tersebut terjadi pada zaman Nabi Ibrahim as. Dalam Al Qur'an Allah SWT berfirman,

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

Artinya:
"Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia."
(QS. Ali Imran: 96).

Ahli kitab mengatakan bahwa rumah ibadah yang pertama dibangun berada di Baitul Maqdis, oleh karena itu Allah membantahnya.

Ayat itulah yang menjadi asbabul nuzul dari pembangunan Ka'bah.

Dikisahkan, bahwa Nabi Ibrahim as membawa istrinya Siti Hajar dan putanya Ismail ke daerah Makkah. Pada saat itu Hajar dalam keadaan menyusui putranya. Nabi Ibrahim kemudian menempatkan Hajar dan Ismail di samping pohon besar.

Pada saat itu, di tempat tersebut tidak berpenghuni dan kering. Nabi Ibrahim as kemudian meninggalkan keduanya yang hanya berbekal beberapa kurma serta bejana yang berisi air.

Perjuangan Siti Hajar.
Ketika Nabi Ibrahim hendak pergi, Hajar mengikutinya seraya berkata,
Wahai Ibrahim, kemanakah engkau akan pergi? Apakah engkau akan meninggalkan kami, padahal di lembah ini tidak ada seorang pun dan tidak ada makanan apapun," ucap Hajar secara berkali-kali, namun Nabi Ibrahim tidak menghiraukannya.

"Apakah Allah SWT yang memerintahkan engkau berbuat seperti ni?" tanya Hajar.
"Benar," jawab Nabiyullah Ibrahim.
Hajar lalu berkata," Kalau begitu, Dia (Allah) tidak akan membiarkan kami."

Nabi Ibrahim as sampai di daerah Tsaniah, dimana tidak telihat lagi oleh keluarga yang beliau tinggalkan.
Di sana Nabi Ibrahim as berdo'a,
"Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati nanti. Ya Rabb kami, yang demikian itu agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur."

Ketika persediaan air mereka habis, Hajar pun mencari air untuk dia dan putranya. Dia pergi ke bukit Shafa mencari apakah ada orang di sana. namun, dia tidak menemukan siapapin di sana.

Hajar pun kemudian pergi ke Marwah dan mencari-cari orang di sana dan ternyata dia tidak menemukan seorang pun. Hajar berulang-ulang pergi dari Shafa ke Marwah, kemudian sebaliknya dari Marwah ke Shafa sampai 7 kali.

Oleh karena itulah di dalam ibadah haji ada yang namanya Sai, yaitu lari-lari kecil dari Shafa ke Marwah dan sebaliknya hingga 7 kali.

Sampai di Marwah, Hajar mendengar suara yang menyuruhnya diam. Ternyata suara itu berasal dari Malaikat. Lalu Malaikat itu mengais tanah hingga airnya keluar.
(Ada riwayat lain yang menyebutkan bahwa air muncul, air zam-zam karena hentakan kaki Nabi Ismail yang masih bayi itu, Wallahu A'lam).

Selanjutnya ia pun turun, mengisi bejana dan kembali lagi dia memberi minum putranya, Ismail

Setelah beberapa waktu berlalu, ada sebuah rombongan dari suku Jurham datang ke tempat tersebut. Mereka tinggal di sekitar air zam-zam bersama Hajar dan Ismail. Ini semua mereka lakukan atas izin dari Siti Hajar.



Membangun Ka'bah.
Nabi Ismail pun tumbuh menjadi dewasa dan belajar bahasa Arab dari suku Jurham tersebut. Beliau juga menikah dengan salah seorang wanita dari mereka.

Pada suatu saat, Nabi Ibrahim datang ingin menjenguk putranya Nabi Ismail as.
Ketika sedang meraut anak panah, Nabi Ibrahim as pun datang. Nabi Ismail pun bangkit menyambutnya dan mereka langsung berpelukan melepaskan rindu.

"Wahai anakku, sesungguhnya Allah menyuruhku menjalanakan perintah," kata Nabi Ibrahim.
"Lakukanlah apa yang diperintahkan oleh Rabbmu," sahut Nabi Ismail.
"Apakah engkau akan membantuku?" tanya Nabi Ibrahim.
"Aku pasti akan membantumu, Wahai Nabiyullah," seru Ismail.

Nabi Ibrahim kemudian menunjuk ke tumpukan tanah yang lebih tinggi dari sekitarnya seraya berkata,
"Sesungguhnya Allah menyuruhku membuat suatu rumah di sini."

Pada saat itulah keduanya bahu membahu meninggikan pondasi Baitullah.Ismail mulai mengangkut batu, sementara Nabi Ibrahim memasangnya. Setelah bangunan tinggi, Ismail membawakan sebuah batu untuk pijakan bagi Nabi Ibrahim as.
Batu itulah yang kemudian disebut sebagai tanda makam Ibrahim.

Mereka pun terus menerus bekerja sambil mengucapkan doa,
"Wahai Rabb kami, terimalah dari kami (amalan), sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
Sampai akhirnya tuntaslah pembangunan Baitullah itu. Ka'bah pun akhirnya berdiri di bumi Allah SWT.

(Nabi Ibrahim as ini kala menerima perintah Allah SWT, anak istri pun tak mampu mencegahnya. Terbukti dia meninggalkan anak istrinya di suatu lembah yang sepi meski hati tidak tega. namun itulah perintah Tuhan, harus selalu ditaati).

Ka'bah.
Rumah Allah SWT, Baitullah ini akan selalu dijaga sampai hari kiamat nanti. Terbukti saat ada raja yang ingin menghancurkan ka'bah, namun di tengah jalan mereka dihadang oleh pasukan dari langit.
Ingat Surat Al-Fiil berikut ini:


أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ
أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ
وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ
تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ
فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ

Artinya:
1. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah.
2. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah) itu sia-sia?
3. dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong,
4. yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar,
5. lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).

Yang dimaksud dengan tentara bergajah ialah tentara yang dipimpin oleh Abrahah Gubernur Yaman yang hendak menghancurkan Ka'bah. sebelum masuk ke kota Mekah tentara tersebut diserang burung-burung yang melemparinya dengan batu-batu kecil sehingga mereka musnah. 
 
Sumber :
Kisah Teladan Islami

Nabi Musa Menampar Malaikat

Kisah Islamiah malam ini sangat menarik untuk dibaca dan sekaligus sebagai renungan malam.
Sungguh yang demikian ini mungkin hanya bisa dilakukan oleh kekasih Allah SWT semata menurut admin.


Nabi Musa as pernah berseteru dengan malaikat Maut yang menyamar sebagai manusia. Pada saat itu, Malaikat Maut yang hendak mencabut nyawa Nabi Musa as, ditampar hingga kedua mata malaikat itu buta.

Berikut ini Kisahnya.
Pedoman kisah dari kitab karya Imam Bukhari tentang kisah akan wafatnya Nabi Musa as.
Diceritakan bahwa pada suatu saat Malaikat Maut mendatangi Nabi Musa as.

"Wahai Nabiyulah, penuhilah panggilan Rabb-Mu," kata Malaikat Maut yang menyamar sebagai manusia biasa.
Ketika mendengar perkataan tersebut, Nabi Musa as tiba-tiba saja menampar malaikat Maut itu hingga kedua matanya buta. Malaikat Maut itu kebingungan dan akhirnya kembali lagi menghadap kepada Allah SWT.

"Ya Allah, Engkau telah mengutusku kepada seorang hamba yang tidak menginginkan kematian," kata Malaikat.

Malaikat Yang Menyerupai Manusia.
Setelah kejadian itu, kemudian Allah SWT mengembalikan penglihatan malaikat tersebut dan menyuruhnya untuk kembali menemui Nabi Musa as.
Dengan perantaraan malaikat tersebut, Allah SWT meminta Nabi Musa as jika ingin menunda kematian, ada syarat yang harus dipenuhi.

"Wahai Nabiyullah, Allah SWT telah menyuruhku agar menyampaikan berita ini. Kalau engkau ingin menunda kematian, maka engkau harus meletakkan tanganmu di punggung sapi jantan, kemudian sejumlah bulu yang tertutupi tangan itu engkau akan diperpanjang umurnya selama 1 tahun," kata Malaikat Maut.
"Wahai malaikat, kemudian apa setelah hitungan itu?" tanya Nabi Musa as.
"Kemudian kematian," jawab malaikat.

Mendengar penjelasan itu, Nabi Musa as memilih untuk tidak menunda kematian.
"Maka sekarang saja kematianku datang tanpa diundur lagi," ujar Nabi Musa as.

Selanjutnya Nabi Musa as berdoa kepada Allah SWT untuk mendekatkan dirinya kepada Tanah Suci (Baitul Maqdis) sejarak lemparan batu. Di tempat itulah Nabi Musa as meninggal dunia.

<p>Your browser does not support iframes.</p>
Hadits Nabi tentang Wafatnya Nabi Musa as.
Mengenai tempat wafatnya Nabi Musa as tersebut, dalam sebuah hadits, Rasululah SAW bersabda,
"Seandainya aku di sana (Baitul Maqdis), maka sungguh akan aku perlihatkan kepada kalian kuburan Musa as, yaitu di sebelah jalan di gundukan pasir merah."

Menurut Ibnu Hibban mengenai Tamparan Nabi Musa kepada Malaikat Maut.
Mengenai kisah itu, Ibnu Hibban menjelaskan bahwa pada saat Nabi Musa as menampar wajah malaikat maut, Nabi Musa as tidak mengenali malaikat yang tengah berwujud sebagai manusia itu.

Malaikat maut itu berwujud sebagai manusia yang tidak dikenal oleh Nabi Musa as. Malaikat itu memasuki rumah Nabi Musa as tanpa permisi lagi.
Karena kedatangannya kepada sang Nabi dalam wujud yang tidak dikenal, dari itu maka Nabi Musa as menampar sang malaikat hingga keuda matanya buta.

Menurut Imam Al-Qurthubi.
Dalam kitabnya at Tadzkirah fiiAhwaalil Mautaa wa Umuuril Aakhirah, kebutaan yang dialami oleh malaikat maut tersbut bukanlah dalam arti yang sebenarnya. Hal senada juga dikatakan oleh Ibnu Mahdi ra.
Malaikat diberi kemampuan untuk berwujud apa saja yang dikehendaki Allah SWT.

Maka sepertinya Nabi Musa as menamparnya sewaktu malaikat menyamar sebagai wujud yang lain, karena setelah itu Nabi Musa as dapat melihat malikat tersebut bermata.
Wallahu A'lam. 
 
Sumber :
 Kisah Teladan Islami